Postingan

Jogja dan April

Terima kasih untuk Jogja dan April yang telah memberiku ruang dan waktu untuk membuat kisah indah dengannya. Meski tak lama, aku cukup bersyukur karena aku berbahagia untuk itu semua.  Terima kasih untuk Jogja karena telah memberiku beberapa alasan untuk bercengkrama banyak dengannya. Terima kasih karena memberiku kesempatan untuk bisa merajut rencana-rencana dengannya meski aku tak tau kapan terjuwudnya. Rencana-rencana indah yang ingin aku dan dia kisahkan di Jogja barangkali kini memang hanya akan menjadi rencana indah saja. Rencana itu kini mengendap menjadi karang di sudut terdalam dari ingatan-ingatan yang sudah mulai dilupa olehnya.  Aku tidak tau bagaimana Jogja suatu saat nanti akan mewujudkan rencana rencana itu atau justru memaksaku untuk kuat dan menemukan kisah indah yang baru. Ataukah akan ada kisah indah tak terencana yang masih akan kulakukan dengannya, atau kisah yang benar-benar yang akan kutemukan. Aku tidak tau keajaiban apa yan akan ditunjukkan dunia padak...

Waktu

Waktu terus saja berjalan. Dan di tiap penghujung tahunnya aku selalu bersiap. Bersiap menghitung kenyataan bahwa penantianku masih belum usai waktunya. Penantianku masih berjalan. Entah akan di mana dan kapan berhentinya. Yang ku tahu, masih saja aku bersikeras menunggu untuk waktu yang lebih lama untuk dia yang memang ada, tapi tak ku tahu hatinya untuk siapa.  Sampai di detik waktu ini, sesungguhnya aku sudah sangat lelah. Lelah akan kepastian yang tak kunjung kudapatkan juga. Bahkan, kian hari yang kudapatkan hanya kebingungan yang cukup menyiksa. Tentu saja aku tak ingin menjadi sosok perempuan yang terlalu menjadikan perlakuanmu menjadi sebuah perasaan yang berlebihan. Tapi aku juga manusia bukan? Sulit sekali rasanya aku berbohong pada perasaan yang memang benar nyata adanya. Aku hanya ingin tak kau buat terus bingung dengan perasaan ini setiap harinya. 

How can?

  Bagaimana bisa aku terjebak selama 4 tahun pada orang yang sama? Dari rasa enggan beranjak hingga kini makin tak tau jika beranjak aku akan berlabuh kepada siapa.  Aku ingin kau jadikan rumah. Tempat bersandar bagimu menghempas segala lelah. Pun begitu kamu, ingin kujadikan tempat bercerita mengenai perjalanan hidup yang indah. Aku ingin kau jadikan aku satu-satunya pemilik senyum dan riang tawamu. Menjadi satu-satunya sosok yang kau ajak merajut lika-liku manisnya sebuah perjalan hidup yang penuh kejutan.  Aku ingin kita riang berdua. Menapak kawan yang menjelma teman kehidupan. Mengarus aliran dengan liku menyenangkan berbalut senyum yang menyenangkan.  Bagaimana bisa aku hanyut bahkan sampai batas yang tak pernah kau kira? Bukankah mengherankan jika aku menganggap semua ini akan berubah menjadi lebih dari sekadar pertemanan? Aku pun tak tahu, kebenaran apa yang sesungguhnya aku nanti pada sebuah pengharapan?  Kamu memang bukan terbaik dari yang lainnya. Pun...

Tentang Perjalanan

Aku rindu akan sebuah perjalanan panjang, dimana hanya kita berdua berbagi tawa yang menjadikannya kenang. Aku rindu tentang kita yang begitu senang mengomentari apapun yang berlalu lalang. Menertawakan hal yang bahkan tak begitu penting untuk ditertawakan. Aku rindu perihal obrolan yang hanya milik kita berdua saja. Aku rindu akan semua waktu dimana hanya ada kita berdua saja di sana.